KENALI AKU
By : Weny rachmasari

Setiap orang-pun tahu...
Makna dari peapatah  ini
“Tak kenal maka tak sayang”
Maka... “Mendekat..dan kau akan terpikat”

          Wajahnya layu. Matanya lesu. Setiap orang yang melihat pasti akan mempunyai rasa kasihan. Bukan masalah fisik, tapi ini lebih parah. Orang tak mampu menterjemahkan keadaannya. Ia mengalami konflik batin yang mendalam. Bahkan orang tuanya-pun tidak memahaminya. Tubuhnya terlihat tak mempunyai daya. Duduk bersandar diatas ranjang, kini telah menjadi hobinya. Pandangannya kosong. Dilihat dari rambutnya yang teruarai berantakan nampak tak terawat. Di depan pintu ibu memandangi, mendekat duduk di sebelah Syifa. Ibu hanya diam, air matanya keluar tanpa dipinta. Seorang ibu tak akan tega melihat putrinya dengan keadaan seperti ini. Syifa tetap saja tanpa respon, seolah-olah tidak tau ada ibu disampingnya.
            Saat ini Ibu mencoba mengerti keadaanya. Ibu hanya tau bahwa anaknya sedang sakit dan tidak mau dibawa ke dokter. Sikap Syifa dibiarkan seperti ini, sampai dia benar-benar kembali dalam dirinya. Hari sudah semakin malam. Ibu mengusap kepala Syifa sampai tertidur pulas. Garis senyumnya masih belum nampak. Tujuan Ibu saat ini merubah Syifa menjadi seperti dulu. Ia dulu seorang gadis yang riang tanpa beban.
            Jalanan masih tertutup embun, adzan shubuh mulai terdengar. Ibu sudah mulai bangundan melakukan aktivitas sehari-hari. Pandangannya kearah kiblat. “Suhanallah” ujar ibu dalam hati. Mata ibu tanpa berkedip, bahkan tubuhnya terdiam layaknya patung. Terkejut bukan main, melihat Syifa yang khusuk berdoa dihadapan Sang Kholiq. Ia baru usai melakukan shalat tahajut. Air mata ibu menetes pelan. Kali ini bukan air mata kecewa ataupun sedih. Tapi, ini air mata kebahagiaan melihat putrinya yang berubah secara tiba-tiba. Duduk di belakang Syifa seraya memanjatkan puji syukur atas semua ini. Ibu berharap semoga Syifa senantiasa istiqomah dijalan yang benar.
            Usai berdoa Syifa menolehkan kepala kebelakang. Ia memeluk Ibu dengan erat seraya meminta maaf atas perbuatan konyolnya yang dibuat beberapa hari ini. Mendengar adzan yang berkumandangn, Syifa dan Ibu pergi ke mushola yang berada disebelah rumah begitu juga dengan bapaknya. Keadaan kembali seperti sediakala, dimana keharominasan kembali dirasakan. Puji syukur atas nikmat sang pencipta, keajaiban yang datang secara tiba-tiba.
            Pagi yang berwarna dengan aroma kebahagiaan. Bahkan burung-burung di ranting ikut bersiul riang menyambut Syifa yang sedang menyapu halaman depan rumah. Embunnya mulai menghilang perlahan. Warga yang berprofesi sebagai petani berlalulalang, begitu juga para ibu-ibu yang pergi kepasar. Garis senyum Syifa mulai di perlihatkan setiap ada orang yang menyapa lewat depan rumahnya. Kini hatinya memang benar-benar berubah. Keterpurukan kemarin menjadikan pelajaran yang penting buat Syifa. Membersihkan rumah, membantu ibu didaur, mencuci baju sudah selesai ia kerjakan. Saatnya badan dibuat releax sembari memainkan posen kesayangannya. Handphone Syifa bergetar lama, banyak pesan yang masuk. Maklum saja sudah dua minggu Syifa tidak memainkan handphonenya. Pesan dari Ferdian menggerutu. Ferdian pacar Syifa, mereka sudah hampir satu tahun menjalin hubungan.
            Syifa sedikit menghiraukan message masuk yang memenuhi ponselnya. Ia lebih memilih untuk browsing mengenai pondok pesantren. Pemikirannya memang sudah benar-benar berubah. Mindset.nya “mencari jalan kebenaran dan meninggakan hal yang menjerumuskan. Terutama yang berhubungan dengan dosa”. Syifa ingin izin kepada orang tuanya, dan ia mencoba mendekati mereka. Wajahnya menyimpan banyak pertannya. Setiap ia ingin melangkanh hatinya merasa bahwa dirinya itu tak mungkin bisa. Melihat ibu dan bapak yang sedang berbincang di depan tv, Syifa datang membawakan juice segar sebagai pemula awa untuk memulai pembicaraan.
“Ibu..bapak ini Syifa bawakan juice mangga” ujar syifa lembut. Ditaruh kedua juice diatas meja, Syifa membalikan badan melangkah pergi menuju kamar.
“Syifa.. sini nak, bapak ingin bicara denganmu” ucap bapak lirih. Langkah Syifa terhenti, ia duduk berlawanan dengan bapak.
“Syifa, bapak mempercayaimu sebagai putri bapak yang pertama. Kamu menjadi panutan kedua adikmu. Masa depanmu ada di tanganmu, bukan di bapak ataupun ibumu.. dan bukan uang yang menentukan”
“Bapak, ibu.. Syifa sudah memutuskan minggu depan ridhoi Syifa mencari ilmu di pesantren Jogja. Disana juga ada kuliahnya, dan insyaallah atas izin Allah Syifa menghafal Alquran disana” jawab Syifa menjelaskan. Kedua orang tuannya tertegun mendengar ucapan Syifa. Wajah mereka benar-benar dibuat bingung untuk menjawab penjelasan Syifa. Lidah menjadi kelu, mata tak berkedip. Kata-kata lebih dari bahagia serta tak pernah terduga, mendengar perkataan Syifa.
                                                                             
            Hari yang sangat ditunggu Syifa, disisi lain ia juga merasa tidak ingin jauh dari kedua orang tuannya. Sebuah niat harus diiringi dengan tekat yang kuat. Agar impian bisa terwujudkan. Kedua adik Syifa, Sarah dan Herman pulang kerumah. Kemarin bapak sengaja menjemput mereka berdua dari pesantren.  Pagi masih terlihat petang, burung belum nampak nongkrong di ranting-ranting. Hanya saja suara ayam berkokok terdengar sejak jam 03:00 pagi. Semua barang keperluan sudah dimasukan kedalam mobil belakang.
            Usai shalat shubuh, rumah sudah dikunci rapat, lampu sudah dimatikan. Ucapan “Bismillahirohmanirrohim” mengawali perjalanan menuju Yogyakarta. Membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk mencapai pesantren. Suasananya sudah berbeda, aroma perdesaan enyah begitu saja, polusi udara lebih tercium jelas. Matanya terus menunduk kebawah, hatinya merasa sesak, padahal berpisah sementara dengan keluarga bukan pertama kalinya untuk Syifa. Nuansa pesantren tercium kental, melihat para santrinya yang keluar masuk gerbang. Pintu masuk tertulis besar “ahlanwahsahlan”.
            Sarah dan Firman dibangunkan sesampai depan pesantren. Mengurus pendaftaran dilakukan bapak diruang kantor. Syifa, ibu beserta adiknya menunggu disebuah aula yang memang dipersiapkan untuk para tamu yang datang. Syifa masih saja diam, lidahnya menjadi kelu. Pandangan ibu terhadap Syifa tak seperti biasanya. Syifa tau kedua mata ibu berbinar, ia tetap saja merunduk. Ia tak ingin sesekali menoleh air matanya akan mengalir. Keputusan yang harus dilaksanakan, demi meraih impian semuanya butuh pengorbannan.
“Kak Syifa, kuliah disini ya?” tanya Sarah penasaran.
“Iya dek, kakak disini. Nanti kalau kamu sudah lulus SMA, adek disini ya bareng kakak. Sekarang-kan Syifa sudah kelas dua Aliyah jadi sudah berfikir kedepannya ya” jawab Syifa menahan air matanya. Untuk berpisah dengan kedua adiknya ia sama saja tak sanggup. Sarah lebih dekat dengan Syifa dibanding Firman. Sarah yang sudah duduk dibangku Madrasah Aliyah kelas dua bisa memahami keadaan kakanya. Berbeda dengan Firman yang yang masih kelas satu MTs.
“Sarah fikir-fikir dulu kak, Sarah masih bingung mau lanjutin kemana. Kakak kalau pulang, berapa sebulan sekali?”
“Iya Sarah, kakak ngertiin. Kakak kalau lebaran baru bisa pulang” jawab Syifa, membuat Sarah hanya terdiam, dengan raut wajah terkejut.
            Dari arah Selatan terlihat bapak jalan mendekat. Bapak memanggil Syifa untuk melakukan test penjajagan guna sebagai persyaratan pendaftaran. Butuh waktu setegah jam untuk menyelasaikannya. Hati Syifa kembali sesak, dalam hitungan menit kedua orang tuanya akan meninggalkannya. Dengan spontan ibu memeluk Syifa erat, usai melihat Syifa keluar dari ruang test. Kali ini air matanya benar-benar tak bisa ditahan. Bukan hanya Syifa saja, ibu dan juga Sarah melakukan hal yang sama. Suasananya menjadi haru, bapak hanya melihat dengan raut wajah datar.
“Syifa.. bapak sama ibu, bangga sama Syifa” ucap ibu seraya menghapus air mata Syifa.
“Kak Syifa jangan nangis ya. Kapan-kapan Firman sama kak Sarah dan juga bapak, ibu bakal sering-sering jenguk kakak” sahut Firman dengan polosnya. Air mata Syifa terus menangis meski sudah berulang-ulang diusap. Ibu mencium Syifa berulang-ulang. Sarah memeluknya erat terlihat ia tak ingin jauh dari kakaknya.
            Perlahan mobil tak terlihat dari arah berdiri Syifa. Air matanya diusap berkali-kali hingga menghilangkan bekas meski hati masih terasa sesak. Syifa disambut ramah dengan teman barunya, iapun mulai memperkenalkan diri dan beradaptasi dengan lainnya. Sebisa mungkin ia tersenyum, mungkin dengan bercanda akan sedikit meredahkan kenyataan yang ia terima saat ini. Memulai kehidupan baru di kota pelajar dengan niat berada di jalan Allah Swt.
“Namanya siapa? Dari mana asalnya?” tanya seorang wanita sebayanya, seraya mengelurkan tangan.
“Saya Syifa tinggal di daerah Semarang. Si mbak namanya siapa?” tanya Syifa balik.
“Aku Zahra, rumahku di Kendal, dekat-kan sama rumah kamu?” Zahra tanya ulang, Syifapun menganggukan kepala sebagai tanda iya.
            Syifa sudah mulai menikmati suasana di pesantren dengan semuanya yang serba baru. Untungnya ia gadis yang mudah beradaptasi. Sekarang ia mempunyai banyak teman yang bisa mengerti sifat serta waktannya. Zahra teman yang paling dekat dan ia percaya untuk menyimpan ungakap hatinya. Awalnya Syifa memang tak bisa menerima keputusan sendiri saat jauh dari orang tua. Padahal Syifa sebelumnya sudah terbiasa di pesantren selama enam tahun, semenjak ujian usai ia pulang kerumah selama tiga bulan. Mungkin keterbiasaan dirumah membuatnya sulit untuk menerima.
            Lantuanan suaranya terdengar merdu, mahrajnya benar-benar jelas. Sesekali orang yang mendengar akan terpukau. Ia mengucap lafadnya berulang-ulang hingga ia benar-benar sudah menghafal. Ia berbeda dengan lainnya, mayoritas disini teman barunya sudah mempunyai hafalan lebih dari juz tiga. Syifa terus bersemangat untuk menghafal Alquran. Baginya waktu bukan sebuah uang yang dapat habis kapan saja. Tapi, waktu adalah tiket kesuksesan seseorang yang benar-benar perlu dimanfaatkan dengan kebaikan. Masalah yang ada dihadapannya dianggap sebuah angin, meski dapat dirasakan tapi angin itu hanya lewat sebentar saja.
            Suarannya terhenti ketika mendengar bunyi ponsel yang berdering. Pesan yang selalu setia menemaninya. Hubungannya dengan Ferdian kini semakin jauh, ia merasa benar-benar tertekan dengan keadaan. Rasa cinta Ferdian terhadap Syifa tidak bisa diibaratkan dengan apa saja. Ferdian memberi harapan besar terhadap Syifa. Syifa hanya merespon dengan baik seakan tak memperlihatkan apa yang ia rasakan. Bukan karna ia takut kehilangan Ferdian tapi ia merasa kasihan atas semua pengorbanan yang diberikan Ferdian. Pandangannya menjadi buyar, fikirannya menjadi ambyar, bahkan air matanya kembali menetes.
“Fa, kamu baik-baik saja-kan? Ada apa dengan dirimu?” tanya Zahra yang tiba-tiba menepuk bahu Syifa. Sponta Syifa memeluk Zahra.
“Zah.. aku benar-benar tang mengerti harus berbuat apa? Keterpurukan itu menghantui aku” jawab Syifa meneteskan air mata “aku bingung Zah, aku ingin melepas Ferdian tapi entahlah apa yang kurasakan sekarang”.
“Bukankah aku sudah kau percaya sebagai sahabatmu. Ceritalah sama aku, siapa tahu aku bisa memberimu jalan keluar” Zahra mencoba menenangkan. Dihapusnya air mata Syifa. Tarikan nafasnya memulai ia berbicara.
“Beberapa bulan lalu.. aku mengalami kesedihan sampai berhari-hari. Bahkan orang tuaku bingung mengahadapi aku. Sebenarnya aku hanya merasa dihantui dosa atas segala perbuatanku dengan Firman. Memang aku tidak berbuat zina Zah, tapi aku sering bertemu dengannya, bertatap muka, ataupun hanya sekededar berjabat tangan seraya mencium tangannya. Sebagai anak pesantren aku malu Zah, aku sudah enam tahun dipesantren tapi masih saja perbuatan keji aku lakukan” jelas Syifa. Air mtanya menetes pelan.
“Syifa, dengarkan aku. Aku tau pacaran itu dosa, bahkan berpandangan juga dosa kecil. Tapi, disisi lain kamu tidak melakukan hal yang keji. Sekarang lihatlah remaja disekitarmu, mereka enjoy saja bergandengan tangan, dan melakukan hal yang tidak lazim. Sedangkan kau berbeda dengan mereka. Lalu apa yang perlu kau fikirkan lagi?”
“Kamu benar Zah, tapi aku ingin fokus dengan hafalanku. Aku sudah mencoba menjelaskan Firman, dya tetap saja tidak bisa melepaskanku”
“Sekarang kau fikirkan baik-baik. Semoga keputusanmu akan membawamu menjadi lebih baik. Aku bangga mempunyai teman sepertimu, sekarang jangan sedih ya Fa. Kita wudhu yuk, adzan magrib sudah berkumandang.
            Jam menunjukan pukul 20.05 WIB, Syifa merebahkan badannya diatas kasur. Malam ini ia memilih untuk mengistirahatkan fikirannya sejenak. Toh, tadi siang Syifa sudah punya setoran buat nanti pagi. Tangannya lihai dalam mengetik. Dengan cepat ia membalas chat dari Firman. Lagi-lagi hatinya merasa terguncang. Mungkin ini waktu yang tepat untuk kujelaskan semuanya. Bukan dijelaskan melalui chat, mungkin menelfon lebih baik dan lebih jelas. “Tegarkan hatiku ya Robb, aku hanya ingin berada dijalan mu, menjahui segala laranganmu. Jadikan keputusanku ini menjadi awal jalan taubatku” guamamnya dalam hati menjadikan percakapan sendiri.
Sambungan telephone terhubung. Terdengar dari seberang nan jauh Firman menjawab “Hallo Sayang”.
“Walaikumsalam , aku ingin bicara penting mengenai hubungan kita. Aku minta maaf atas semua perbuatanku, dan terimakasih atas semua perjuanganmu untukku. Maaf, aku benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita bukan karena aku tidak mencintaimu lagi ataupun ada orang lain. Tapi, aku benar-benar ingin merubah diriku. Aku berjanji akan tetap sendiri sampai aku menjadi sarjana dan sampai aku khatam Alqur’an, jika kau masih bersedia menungguku temui aku kembali, bawa aku dalam ikatan yang sah” jelas Syifa tanpa basa-basi. Sesekali air matanya menetes, ia tak bermaksud untuk menyakiti Firman. Hanya saja keputusan Syifa menghindar dari hal yang dibenci Allah.
“Aku tak tau harus menjawab apa mendengar keputusan konyolmu. Hanya saja hatiku kali ini lebih merasa hancur dari sebelumnya. Aku tak mempunyai kuasa untuk melarang keputusanmu” jawab Firman lirih. Iya terdiam dalam isaknya.
“Percayalah sama aku.. jika memang ditakdirkan untuk bersama. Kau akan menjadi imanku kelak” sahut Syifa pelan. Firman mematikan telfon dengan tiba-tiba, kali ini Syifa lebih merasa bersalah. Ia ingin menghubunginya ulang, no Firman sudah tidak aktif.
           
            Mentari pagi penuh dengan kesejukan. Syifa dengan Zahra memilih untuk jalan-jalan sebentar menikmati suasana pagi. Gunungnya terlihat melintang indah bagai sebuah lukisan elok. Hati Syifa kini lebih tenang. Waktu berjalan dengan cepat, dua tahun berlalu dengan sendirinya. Awalnya ia sempat murung memikirkan Firman, tapi sekarang ia mulai terbiasa dengan keadaan. Bahkan sekarang hafalan Syifa sudah juz lima belas. Untuk masalah jodoh, Syifa belum kefikiran sejauh ini. Harapannya ia diberi iman yang bisa membawanya dalam jalan yang benar.
            Waktunya para santri menjadi mahasiswi. Semuanya terlihat anggun dengan pakaian yang sekirannya tidak memperlihatkan lengkungan tubuh. Syifa terlihat anggun dengan pakaian dress tosca berpadu baby pink. Ia sedikit memberi lipstik agar tidak nampak pucat. Sempurna, benar-benar menarik dengan parasnya yang cantik. Siapaun lelaki yang melihatnya akau terhipnotis sementara. Banyak lelaki yang tertarik akan pesonanya, tapi baginya itu adalah hal yang tidak penting. Lagian umur dua puluh tahun masih belum pantas untuk membina rumah tangga. Tapi, itu pendapat Syifa sendiri.
            Saat ini dya memang ingin fokus untuk mengkhatamkan Alquran. Toh, bentar lagi juga akan skripsi. Masalah jodoh pasti akan tiba disaat yang tepat. Jika ada laki-laki yang mendekat untuk mengajak pacaran, mendingan jangan dulu. Tapi, kalau ada laki-laki yang ingin melamar justru itu adalah tindakan yang benar. Bukankah jodoh itu cerminan dari diri sendiri. Intinya tidak perlu difikir panjang, kalau endingnya nikah tua itu tidak menjadi sebuah masalah. Zaman sekarang banyak para gadis yang hamil diluar nikah. Naudzubillah, para wajah yang tak punya malu. Jawaban apa yang akan diberikan jika di akhirat dipertannyakan?.
“Tinggal menghitung bulan Fa, insyaallah mahkota akan terpasang di kepala kita” ujar Zahra dengan penuh harap. Bahkan membuatnya tak sadar ada batu didepannya, membuatnya hampir terjatuh.
“Hati-hati Zah kalau jalan” ucap Syifa tertawa kecil “aku juga tidak menyangka akan secepat ini Zah. Rasanya ini sebuah anugrah terbesar dari Sang Pencipta”
            Diambang gerbang mereka melangkah menuju ruang masing-masing. Sama-sama mengikuti pelajaran dengan serius. Aktif dalam mencatat apa yang diterangkan dosen. Bahkan semenjek Syifa jauh dari Firman, ia benar-benar berubah. Awalnya yang hafalanya paling tertinggal, sekarang ia justru paling unggul. Mahraj dalam bacaannya-pun juga fasyih. Di kelasnya ia mendapat IP tertinggi. Sunguh sebuah niat suci yang memuaikan hasil. Ketekunannya memang patut di acungi jempol.
            Mega merah datang seperti biasanya menandakan hari mulai petang. Awan yang semula biru, berubah keabu-abuan. Bintang juga mulai bermunculan secara perlahan. Adzan dari kejauhan sudah mulai terdengar samar. Ayunan kaki mereka dipercepat, takutnya ntar malah ketinggalan shalat jamaah magrib.
                                                                            
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sisa Siksa

PARASIT