Sisa Siksa


Sisa Siksa
By : Weny Rachmasari

Lihatlah,
Serigala yang dipandang keji
Justru, memiliki jiwa keluarga yang luar biasa

            Warna tak lagi cerah. Semuanya seketika memudar, hilang. Anggap saja semuanya hitam putih, indah? Tentunya tidak. Sejak hal itu terjadi, semuanya sangat berbeda. Bahkan hidup merasa tak terasa. Mungkin sekarang hanya ada arwah kasat mata, sedangkan jasmani yang terlihat kokoh memudar. Sel-sel tubuh-pun mati seketika. Dan setelah itu ada mimpi, mimpi yang harus dipenuhi.
            Wajah kusut dibalut mata sembab dengan tatanan rambut seadanya seraya meringkuk dalam tilam. Tenang. Gadis itu terus memeluk foto dalam bingkai dengan erat. Air mata tak bisa menyekat keadaan. Dalam waktu yang lama ia begitu betah tanpa melakukan aktivitas apapun. Sedangkan Amel kakaknya membiarkan begitu saja. Sisa itu memang begitu menyiksa. Bahkan tak ada pertanggung jawaban atas keadaanya sekarang.
“Syeilla.. kami semua sayang Syeilla,” ungkapan itu terus terbayang, tepat dimana usianya 10 tahun. Bayangan tawa terus menjadi sebab isaknya. “Sye..il..la.. rindu kalian” desisnya meringkuk.
            Seusia Syeilla yang masih duduk di bangku SMP memang tak pantas menerima kenyataan pahit seperti ini. Dia merasa hidup benar-benar sudah berhenti. Nasib terus memainkannya seolah tak berpihak. Begitu juga dengan semesta memalingkan muka. Bicara soal takdir memang kuasa Sang Pencipta. Sekarang hanya Bi Nini satu-satunya orang yang paling mengerti Syeilla. Toh, Amel kakanya sibuk dengan dunianya.
“Non Syeilla.. makan dulu ya, kasihan perut non” bujuk Bi Nini mendekat, membawa makanan kesukaannya. Syeilla mendekat, mendekap erat tubuh Bi Nini. “Bi Nini jangan tinggalkan Syeilla sendiri” Bi Nini mengangguk membaringkan tubuh, menenangkan Syeilla.
“Kalau suatu saat Bi Nini pergi dari sini. Bi Nini tetap sayang sama Syeilla?”
“Pasti Non. Bi Nini sayang Non Syeilla” Bi Nini terdiam. Mengkode mata agar tak melelehkan laharnya. Suasana haru menyelimuti malam itu. Malam yang selalu setia mendengar rintihan Syeilla. Ketika semua terjadi begitu saja.
            Dari luar jendela, dedaunan merasa iba. Malang sekali bocah kecil itu. Bulan yang biasanya terlihat  lebih terang menjadi sedikit redup. Segaris senyuman tak terlihat. Semakin hari tubuhnya semakin melemah. Rasa capek itu begitu jelas. Air mata terus meluncur begitu saja. Sekarang, dalam hidupnya mempunyai harapan kecil. Harapan sederhana, tak muluk-muluk.
            Pagi masih gelap. Suara ayam tetangga mulai terdengar. Seusai menjalankan kewajiban dua rekaat Syeilla berdoa. Dengan tegar ia mengadu, berharap Allah mengabulkan. Sisa itu terus membuat tubuhnya tersiksa. Meski tak berbentuk luka, rasa sakit itu memang nyata. Amel masih tertelup dalam kapuk ketenangan. Gadis kecil itu semakin dekat. Didekapnya lembut. Serontak Amel terbangun mendekap balik adik semata wayan.
“Kak Amel sayang Syeilla” bisiknya pelan. Syeilla mengangguk memejamkan mata, merasakan kasih sayang seseorang yang begitu dalam. Seperti hal dulu yang pernah terjadi. Kini terulang, tapi belum lengkap. Keharmonisan antara kakak dan adik menyelimuti ruang kamar. Seolah ada alunan melodi klasik yang tenang. Bahkan benda pasif disekitarnya ikut merasakan, tentram.
            Belakangan gemeriap dunia remaja sempat mengalihkan perhatian Amel terhadap Syeilla. Akibatnya sejak kejadian itu Amel minggat dari rumah. Kadang pulang, kadang nggak. Menghamburkan uang, pesta dengan teman, dan lain sebagainya. Bahkan ia lupa dengan Syeilla. Syeilla yang masih dini untuk mengerti masalah ini. Ia yang masih perlu banyak kehangatan. Juga bimbingan, perhatian, kasih sayang, tentunya yang bikin ia nyaman. Malang.
***
“Syeilla.. jangan lupa semangat sekolah ya, bentar lagi liburan Syeilla usai”
“Syeilla nggak mau sekolah, maunya papa sama mama” serentak Amel terdiam. Memandangi Syeilla penuh rasa iba.
“Syeilla harus semangat, meraih masa depan Syeilla. Biar sukses kayak papa, mama”
“Masa depan Syeilla ingin kembali sama papa, mama. Syeilla nggk minta yang aneh-aneh kak, jika keinginan Syeilla tercapai.. itu artinya masa depan Syeilla terwujudkan” dipeluknya erat Syeilla. Amel mencoba menahan air mata. Baginya, tegar dihadapan Syeilla itu sebuah kewajiban.
“Kak Amel maukan mewujudkan masa depan Syeilla?”
“Iya sayang.. kakak pasti bantu Syeilla”
            Sebagai kakak, Amel tak mengerti harus bagaimana. Ia pergi dari rumah bukan untuk dirinya. Tapi, untuk Syeilla. Beberapa waktu lalu Amel mencoba bertemu orang tuanya. Berbagai rayuan dikeluarkan untuk membujuk keduanya. Alhasil, tak sesuai yang diharapkan. Mungkin yang Syeilla tau selama ini Amel pergi meninggalkannya sendiri. Sebagai seorang kakak tak mungkin setega itu. Ia merasa terbebani melihat adiknya yang berlarut dalam kesedihan. Tanggung jawabnya memang begitu besar. Mendengar permintaan Syeilla, hati Amel sangat terpukul. Bukan tersakiti. Seketika itu Amel merasa sangat kecewa dengan kedua orang tuanya. Terpukul atas kejadian itu. Bukan hanya Syeilla yang tersiksa. Amel lebih merasakannya.
***
            Pertengkaran hebat terjadi begitu saja. Tak ada perleraian. Dan tiba-tiba saling menghilang. Sampai sekarang sudah dua minggu lebih keduanya pisah. Ego yang sama-sama tinggi membuat keduanya susah untuk kembali. Sehingga mereka lupa tanggung jawab terhadap buah hati. Banyak sekali kasus pertengkaran orang tua membuat anaknya menjadi korban. Seharusnya hal itu tak boleh terjadi, bagaimanapun jangan.. jangan sampai.
“Kamu selalu sibuk diluar, tidak pernah mempunyai waktu untuk aku dan anak-anak.” Tungkas Mama dengan nada tinggi. Hatinya merasa kacau melihat suami sering pulang terlambat. Emosi memuncak.
“Aku kerja banting tulang ngurus proyek sana-sini untuk kamu sama anak-anak kita. Tapi, kamu malah kayak gini. Dasar wanita tak tahu diuntung.” Nada Papa tak mau kalah. Keduanya sentimental. Dari arah yang berlawanan Amel Berdiri tegap seraya membungkam telinga Syeilla. Air mata keduanya mengalir deras. Badannya melemas.
“Pergi saja kau dari rumah. Dan ingat. Sekali kamu pergi, jangan pernah berfikir untuk kembali” serontak Mama keras. Dengan suara yang sedikit tersendal. Tangisanya menjadi-jadi. Tanpa fikir panjang Papa menyetujui. Sebelum itu ia sempat mencium kening Syeilla dan Amel. Sebagai tanda pamitan. Keesokan harinya kertas putih yang tertindih sejumlah uang yang cukup banyak tergelatak dimeja makan. Keterangan dari Mama pergi dari rumah. Saat itu bukan Amel yang pertama kalinya membaca. Syeilla menjerit sekeras-kerasnya. Sebuah kode memanggil seisi rumah untuk berdatangan, meski cuma Bi Nini dan Amel.
            Bayangan-bayangan itu terus bergentayangan. Kejadian terburuk yang pernah terjadi di rumah ini. Kenangan manis yang tertinggal masih begitu terasa. Tak mungkin di sapu begitu saja oleh Bi Nini. Kalaupun harus hilang, mereka harus mempertanggung jawabkan. Dengan anteng Syeilla menorehkan perasaan dalam buku diary. Ditemani dengan Cici boneka teddy bear yang dulu dibelikan orang tuanya. “Syeilla ingin Papa, Mama pulang. Mendekati ulang tahun Syeilla, Syeilla tak butuh perayaan mewah tanpa hadirnya Papa Mama. Syeilla ingin perayaan masa depan Syeilla. Masa depan, yang baru kemarin Syeilla rencanakan. Itu adalah Papa, Mama. Syeilla rindu.” Sisa yang begitu menyiksa.
            Impian sederhana. Wajar saja seusia Syeilla sangat terpukul melihat kejadian kedua orang tuanya. Ia belum bisa mencari dunianya. Dunia yang membuat ia aman tanpa mereka. Mencari hiburan dengan kedewasaan. Saat ini, ia tak mungkin seperti itu. Harapannya masih sederhana. Perayaan yang tak seperti biasanya. Tidak seperti orang-orang dewasa pada umumnya. Pantas karna dia masih kecil. Merasakan sisa siksa tanpa tau cara mengobatinya.
            Sesekali kadang mereka menghubungi rumah tanpa sepengetahuan Syeilla. Meski hanya sekedar menanyakan kabar keduanya lewat Bi Nini. Kadang juga Amel chattingan dengan keduanya. Mencoba memelas dihadapannya. Tetap saja hal itu tak merubah keadaan sama sekali. Hati yang sekeras batu tak segampang menaklukannya seperti es batu yang mudah mencair. Hanya ada dengan bantuan doa. Ini lagi diuji. Jadi, harap bersabar sebentar.
***
            Pagi masih belum cerah. Matahari mulai clingak-clinguk nggak tau mau muncul jam berapa. Waktu terus menjalankan kewajibannya. Tunggu. Pagi ini sedikit ada yang berbeda. Biasanya Syeilla sudah bangun pagi datang ke kamar Amel. Tapi, kali ini nggak ada. Ruangannya kosong. Tak ada jejak dia pergi kemana. Bahkan tak meninggalkan kertas seperti Mama. Kemana Syeilla? Amel, Bi Nini berlarian mencari. Meminta bantuan tetangga sudah dilakukan. Tetap saja jejak Syeilla tak ditemukan.
            Beberapa saat Amel termangu di depan Alfamart terdekat rumah. Menunggu yang ditunggu. Menanti mereka yang dipikir peduli dengan keadaan ini. Beberapa detik, menit. Kemudian beberapa saat. Dengan pelan taxi itu mendekat. Perlahan wanita itu keluar. Wajahnya terlihat janggal menatap Amel. Lambat-lambat semakin dekat. Pipinya lembab. Dengan haru Amel menyapa dan perlahan menceritakan semua. Dari arah yang berlawanan sosok bertubuh kekar itu datang dengan mobil yang dikendarai. Keduanya saling melirik janggal.
            Awal mulanya hati mereka masih sekeras batu tak ingin bertindak sama sekali. Amel terus menceritakan keadaan Syeilla setiap harinya. Bocah malang yang rindu kasih sayang. Disisi lain mama, papa tak tega melihat kedua anaknya mengalami hal seperti ini. Akhirnya mereka sadar, meski masih saling bungkam. Tanpa banyak kata Amel menarik mama masuk kedalam mobil. Papa terkode mengikutinya.
“Ayo Pa cepat, Amel nggak mau Syeilla terluka” air matanya mengalir tanpa malu. Mama mencoba menenangkan. Ketiganya mulai khawatir.
“Sabar Kinen, Papa juga khawatir” laju mobil dipercepat. Matanya berlari kekanan kiri. Dibawah pohon yang sedikit rindang. Mobil dihentikan. Gadis kecil itu bersantai dibaliknya. Kinen menyapa lembut. Bukan, dia bukan Syeilla.
            Malam semakin larut. Perjalanan sementara dihentikan. Kinen memohon untuk keduanya beristirahat sejenak di istananya dulu. Istana yang beberapa minggu lalu ditinggalkan. Semoga dengan cara ini mereka sadar. Dibukakan hati dan saling memaafkan. Melupakan. Rasa capek tak terasa, adanya kecewa. Sesampai di depan rumah seisi mobil turun. Terlihat gelap. Tak ada pantulan cahaya. Tok..tok..tok. Pintu diketuk. Bi Nini membukakan.
“Gelap sekali Bi. Lampunya mati?” tanya mama tanpa melihat posisi Bi Nini. Beberapa detik lampu menyala. Dengan wajah kusut ketiganya bersandar diatas sofa. Sejenak teringat kenangan yang belum sempat disapu. Beberapa saat, semua terkejut. Wajahnya diam penuh kebahagian. Mama serontak lari. Papapun mengikuti.
“Syeilla anakku” ucap Papa haru seraya memeluk putri mungilnya. Tanpa sadar sejak awal Syeilla berdiri tegap di ruang atas. Syeilla memang tadi sempat pergi, tapi kembali.
“Jangan pergi ya sayang, mama sayang Syeilla”
“Papa.. mama jangan pergi lagi. Syeilla dan Kak Amel nggak mau sendiri” ujarnya lirih. Suana bahagia berpadu haru telah berkolaborasi. Tanpa sadar papa, mama baikkan. Entah dimulai dari percakapan apa. Keduanya tersenyum bahagia. Perayaan sederhana. Impian Syeilla terwujudkan. Setidaknya kini ia kembali. Garis senyum yang sempat hilang, datang. Sisa siksa itu memberi arti. Pergi.
“Mama, papa tiadak akan lagi meninggalkan kalian” ucap mama lembut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PARASIT