PARASIT



PARASIT
Oleh : Weny Rachmasari
Kelas : XII IPS 1

               Lampu-lampu mulai berpijar terang, begitu juga dengan perumahan “Griya Indah”. Menandakan hari mulai petang sehingga lampu mulai dinyalakan, maklum saja zaman yang sudah berganti begitu cepat hingga energi listrik sebagai peran utama dalam kehidupan sehari-hari, berbeda dengan zaman dahulu yang harus mengandalkan dimar dengan minyak gas agar rumahnya tidak terlihat gelap. Cahaya yang bersinar tak bisa mewakili suasana di rumah Fanya, kali ini warna hitam telah berhasil menggantikan warna putih dalam hidup Fanya, semenjak pertengkaran kedua orang tuanya, hidupnya lebih terasa suram, gelap, dan ia merasa terpojok dengan keadaan sekarang. Kasih sayang, perhatian, dengan suasana harmonis menghilang begitu saja, pertengkaran yang disebabkan perselingkuhan ayahnya, membuat keluarganya broken home. Nyayian lagu jass favoritnya terdengar berulang-ulang, sedikit mengobati apa yang ia rasakan, meski suara pecahan gelas yang di buat kedua orang tuanya terdengar lebih nyaring, tapi bagi Fanya itu tambahan melodi dari lagu yang ia dengar sekarang. “ Mendengarkan musik jass, bagiku semua masalah seakan teratasi meski hanya sementara, lagunya yang happy dan nggak bikin mellow itu alasanya mengapa aku tertarik musik jass “ ujar Fanya menghibur diri.
                Beberapa usaha yang telah ia lakukan tak memuaikan hasil yang diharapkan, ayahnya yang memiliki keegoisan tinggi membuat mamanya selalu mengajukan gugatan cerai. Pergi dari rumah, berkeliaran di jalanan, menghibur diri di diskotik ataupun hal yang negatif,  hampir ia lakukan semenjak pertengkaran kedua orang tuanya.  Tapi Fanya sadar hal seperti itu akan membuat keadaan semakin buruk. Fanya bersikuat tegar dalam menghadapi cobaan, bahkan semua ini bagaikan aplikasi ataupun fariasi hidup, terkadang hidup tak seterusnya indah seperti halnya jalan yang tak semuanya mulus, ada juga jalan yang telah rusak untuk di perbaiki. Amanat dari orang tuanya tak pernah ia hiraukan, dan selalu ia jalankan dalam keadaan yang seperti ini, Fanya tak pernah meninggalkan shalat ataupun kebiasaanya mengaji setelah shalat magrib, baginya berserah diri kepada Tuhan justru membuat hati dan pikiran tenang, di tambah membaca sholawat dalam hati. Toh, banyak juga anak yang mengalami seperti ini justru mereka menyalahkan takdir Tuhan hingga tidak melakukan kewajiban mereka.
               Memasuki kelas XII yang sebentar lagi menghadapi ujian ia tak boleh menyerah karena hanya permasalahan orang tuanya, memang ini adalah ujian yang sangat berat buat seorang anak tapi apa boleh buat Tuhan telah menakdirkan garis hidup Fanya seperti ini.
“ Semua ini gara-gara kamu yah, kamu yang membuat keadaan menjadi berantakan “ bentak mama dengan emosional yang tinggi.
“ Iya saya tahu! saya sudah mencoba bilang baik-baik dan menjelaskanya, tapi apa? kamu tak memberikan kesempatan saya buat berbicara “ balas ayah tak mau kalah. Malam yang semakin larut menghentikan perdebatan mereka, mamanya melangkahkan kaki ke kamar seraya mengunci pintu rapat-rapat sedangkan ayah mencoba menghampiri Fanya yang sedang berbaring lemas di atas kasur.
“ Fanya.. maafin ayah, nggak seharusnya semuanya kayak gini hingga kamu harus terlibat dalam urusan keluarga “ ucap ayah mendekati Fanya, tangisanya semakin menjadi-jadi seerat mungkin Fanya memeluk ayahnya tak sepatah kata iya katakan diam cukup menjadi jawabanya hingga Fanya terlelap di pangkuan ayah.
               Gemuruh suara adzan shubuh membangunkan Fanya dari tidur pulasnya, air mata terakhir membuat matanya terlihat sembab tidur di pangkuan ayah membuat tidurnya semakin lebih nyaman dari pada malam-malam sebelumnya.“ Ayah.. udah shalat shubuh, bangun yah nanti kita shalat berjamaah “ tungkas Fanya membangunkan ayahnya, sekali dua kali ayah terbangun dengan wajah yang terlihat kusut. Guyuran air wudhu mengubah wajah mereka terlihat lebih segar, matanya terbuka lebar hingga tangisan tadi malam mulai menghilang tanpa meninggalkan bekas. Shalat berjamaah menjadi tradisi sejak dulu di keluarga Fanya, tapi kali ini mamanya lebih memilih untuk berdiam sendiri di kamar mungkin amarahnya yang sudah terjadi sejak dua minggu yang lalu masih belum bisa mama lupakan.
               Tak sepertri biasanya yang selalu ada sarapan siap saji di meja makan ataupun kursi yang sudah di penui ayah dan mama, hari ini Fanya mencoba menerima keadaan dengan iklas. Sepotong kue dengan segelas susu diantarkanya ke kamar mama.
“ Ma.. mama jangan sedih terus ya, Fanya berangkat sekolah dulu ma “ sapaan Fanya tak berhasil membuat mama mengeluarkan suara. “Fanya sayang mama..love you mom “ ujar Fanya menahan buliran air mata untuk kedua kalinya, seraya mencium kening mama.
              Teriakan Fanya menghentikan pak Maman yang hampir menutup pintu gerbang. Terlihat Anfi sahabat Fanya melambaikan tangan diambang pintu kelas seraya bersorak “ Miss kamu Fan..”  Fanya mencoba tersenyum selebar mungkin menutupi masalah yang ia alami.
“ Fan.. kamu udah tiga hari nggak berangkat kemana aja, kamu nggak sakit kan, apa kamu lagi ada masalah? “ desak Anfi mulai curiga. Pertanyaanya mengundang air mata yang tak ingin ia perlihatkan di depan umum.
“ Nanti aja ya Fi ceritanya, aku lagi nggak mute “ tolak Fanya lembut. Anfi mencoba mengerti keadaan yang di alami Fanya hanya menunggu waktu sebentar agar ia mau mengungkapkan apa yang dirasakan. Awal hingga akhir pelajaran, ia hanya terdiam seolah-olah mendengarkan apa yang diterangkan guru.
               Bel pulang mulai terdengar membuat seluruh siswa berlomba keluar dari gerbang, berbeda dengan Fanya yang masih diam di tempat duduk  menunggu suasana sepi agar bisa menceritakan kepada Anfi.
“ Fan.. kamu kenapa? cerita aja kalau lagi ada masalah “ bujuk Anfi memancing Fanya untuk berkata, wajah Fanya terlihat lesu, pandanganya kacau, bahkan matanya berbinar air mata. Tarikan nafas Fanya memulai ia berbicara.
  Orang tuaku fi, lagi ada masalah besar bahkan mama sampai mengajukan gugatan cerai sedangkan aku nggak bisa berbuat apa-apa “ jelas Fanya seraya mengeluarkan air mata.
“ Ya ampun Fan.. jadi ini alasanmu tidak masuk sekolah, aku juga bingung kalau ngadepin permasalahan orang tua bahkan Sanni teman kita waktu SD sekarang dia jadi frustasi gara-gara broken home. Kamu harus kuat Fan, banyak anak di luar sana yang hilang akhlaknya karena permasalahan kayak gini “ lanjut Anfi mencoba menenangkan Fanya. Hari mulai sore, melihat keadaan Fanya yang tidak memungkinkan Anfi mengantarkanya sampai di depan rumah. Salam Fanya di jawab ayah yang sedang duduk di meja makan, sekali Fanya menanyakan keberadaan mama, ayahnya hanya terdiam. Kamar mama terlihat kosong, selembar kertas tertata rapi di atas meja dengan tulisan tinta merah, Fanya pun membacanya.
               Fan.. maafin mama, mama terpaksa ninggalin kamu,  sementara waktu kamu bersama ayahmu dulu. Mama pergi butuh ketenangan Fan, kamu nggak perlu cari-cari mama, sekolahmu diselesaikan dulu bentar lagi kamu akan ujian. Good luck ya sayang.. mama sayang kamu Fan.
Tangisan Fanya menjadi-jadi, ayahnya seerat mungkin memeluk Fanya agar dia merasa lebih tenang, usai itu Fanya dan ayahnya melakukan shalat magrib berjamaah mengadu apa yang di rasakan berdoa agar masalah dalam keluarganya bisa diselesaikan dan kembali utuh seperti dahulu, bagi Fanya Allah akan mengabulkan doa setiap hambanya yang membutuhkan pertolongan, membaca ayat suci al-qur’an selembar, dua lembar membuat hati Fanya sedikit lebih tenang.
               Try out pertama tanpa persiapan, membaca buku mengusai mapel tak sempat di lakukan Fanya. Meingat penjelasan dari guru menjadi bahan dasar untuk mengerjakan soal try out hari ini, entah nanti hasilnya buruk tak menjadi masalah untuk Fanya. Masalah orang tuanya seakan parasit dalam hidupnya mengganggu berbagai kendala yang di alami Fanya, memang kenyataan seperti ini, tapi ia berusaha untuk menyakinkan takdir Tuhan. Bukan sepenuhnya ini salah kedua orang tuanya. Sore ini Fanya memilih pulang sendiri tanpa harus di antarkan Anfi sampai rumah, berjalan kaki harus ia lakukan karena ayah yang tidak bisa menjemput Fanya seperti biasanya.
                Suara adzan yang mulai terdengar, sedangkan jarak rumah Fanya masih jauh. Pasti ayah semakin kawatir melihat anaknya yang tak kunjung pulang. Jalan Pendeta salah satu alternatif  jalan menuju rumahnya agar lebih cepat sampai, tapi orang tua Fanya sejak dulu melarangnya untuk melewati jalan itu tempat dimana dibangunya diskotik, tak ada plilihan lain untuk Fanya, berhati-hati itu yang dibutuhkan.
                Pandangan fokus kedepan meski terlihat keramaian om-om dan tante-tante keluar masuk dari bangunan yang berselimut lampu warna-warni, sesaat ia melirik, “ deg ” melihat mamanya sedang masuk diskotik. Hatinya kacau, sebisa mungkin ia bisa membawa keluar mamanya dari tempat itu, melangkah menuju teras, sudah terdengar musik jass favorit Fanya.  air matanya mengalir deras, mamanya yang terlihat duduk santai sembari menuangkan minuman keras, tanpa rasa takut Fanya menyeret mamanya keluar dengan keadaan mabuk. “ Untuk pertama kalinya aku membenci musik jass dan pertamakalinya melakukan hal kasar kepada mama, mendengar alunan musik jass ditempat yang membuat aku semakin kacau “ desah Fanya dalam hati, ia tak mungkin membawa pulang mama dengan keadaan seperti ini pasti amarah ayah akan memuncak, menenangkan mama dirumah Anfi jalan satu-satunya untuk Fanya, lagi pula orang tua Anfi sudah mengenal dekat dengan keluarga Fanya.
“ Tante, Anfi.. Fanya titip mama dulu.. Fanya harus pulang kerumah sebentar, melihat keadaan ayah “ ujar Fanya meminta izin. Keluarga Anfi yang bisa mengerti keadaan Fanya bersedia mengurusi mamanya.
               Air mata yang tersisa dipipi, diusapnya agar tidak ditanyakan ayahnya. Ia tak ingin masalah mama membebani ayah, biarkan ayah menenangkan fikaran dulu usai itu Fanya mengajak mama untuk pulang kerumah. Salam yang selalu didahulukan sesampai dirumah tapi tanpa ada balasan dari ayah, kamar terbuka lebar melihat ayah yang sedang berbaring di atas kasur tertutup selimut. Senggolan lembut Fanya tak membangunkan, selimut putih dibukanya melihat darah yang memenuhi badan ayah, kepala Fanya ditempelkan di arah jantung ayah, tak terdengar  nadi sama sekali. “ Ayyyyaaahhhh.....” jeritan Fanya begitu terpukul melihat ayahnya yang sudah tak bernyawa, air matanya bagai hujan badai tak ada kekuatan untuk menerima ini semua. Begitu berat ujian yang ia terima.
                Pagi yang buruk mentari pagi yang dingin, kenyataan pahit yang harus diterima Fanya melihat jenazah ayah sudah berbalut kain kafan dengan dikerumuni banyak orang. Terlihat mama di antarkan ibu Anfi, sesampai di ambang pintu air mata mama mulai mengalir, tubuhnya melemas seerat mungkin mama memeluk ayah yang sudah terbujur kaku. Anfi mencoba menenangkan Fanya dalam pelukanya.
“ Yah.. jangan tinggalin aku dan Fanya, aku sudah kembali..pasti keluarga kita kembali utuh seperti dulu lagi “ ucap mama menyesal. Kerenda mulai diangkat,  jeritan mama yang membuatnya semakin melemas hingga mama tak sadarkan diri.
               Mengiklaskan semua yang sudah terjadi, cobaan yang telah diberi Tuhan begitu berat untuk anak seusia Fanya, akhir permasalahan tak sesuai yang diharapkan, yang harus berakhir kematian ayahnya. Mama mulai sadar akan dari permasalahan ini, kejadian yang tak akan terlupakan, sebuah permasalahan besar yang dihadapi dengan emosi membuat semua selesai dengan tidak sempuna. Waktu telah membuktikanya, inilah takdir yang harus di terima Fanya dan mama.
=>   Selesai <=

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sisa Siksa