My Live is Vague
By : Weny Rachmasari


Jeritan...tangisan...
Biarku simpan dalam, hingga sang Pencipta menjemput pulang.
                          Amarah awan mulai terlihat, ketika warna biru terang menjadi warna kelabu kental. Tangisanya mulai menjadi-jadi membasahi rerumputan, genting-genting, dan sekitarnya, berkombinasi dengan angin menunjukan kehebatanya. Linka duduk manis didepan koredor sekolah menunggu jemputan ayahnya, wajahnya terlihat pucat rona kulitnya membiru ia menyimpan tangan diantara sela kedua pahanya yang  sengaja ia tekan rapat agar tidak merasa kedinginan. Satu jam kemudian ayahnya datang melihat putrinya yang terbujur lemas. Linka dibawa masuk ke dalam mobil.
                       Linka sudah mulai membaik setiba dirumah. Selimut tebal berlapis dua dan kain yang telah direndam dengan air hangat menempel di jidadnya, meringankan rasa dingin dan demam pada diri Linka. Kini ia tertidur lelap ditemani Bella kakaknya. Mamanya pulang dari kantor, lipatan wajahnya melukiskan rasa sedih melihat Linka terbujur lemas.
“Bella, Linka kenapa?” seraya mama menempelkan tanganya ke tubuh yang mulai membiru, “badanya demam.”
“Iya ma, tadi papa jemputnya terlambat soalnya jalanan macet total“ Bella-pun menjelaskan.
                       Hari semakin petang mama membiarkan Linka tertidur pulas. Sebelum itu mama memberi makan agar badan Linka tidak lemas. Malam ini mama memilih menemani Linka tidur disampingnya, setidaknya hatinya akan lebih terasa tenang.                      

                            Lintasan cahaya pagi yang mulai masuk menyelinap difentilasi kamar, cahaya memang tidak terlalu terang akan tetapi menyambar diwajah Linka membuatnya terbangun dari pulau impian. Burung-burung yang terlihat dari jendela menari bahagia, menyambut kesembuhan Linka. Melihat jam alroji menunjukan pukul 06.15 ia-pun bergegas membersihkan badan dan menjalankan kewajiban seperti biasanya yaitu bersekolah. Sedangkan mamanya sudah terbangun ketika Fajar tiba. Membersihkan rumah, menyiapkan makanan dan lain sebagainya. Maklum saja mbak Inem pekerja dirumah ini minta cuti sebentar, sehingga mama harus melakukan itu semua dibantu dengn Bella.
                          Linka menghias diri serapi mungkin, tatanan rambutnya dibiarkan terurai. Ditambahi jepit pita yang sesuai dengan warna seragamnya “putih abu-abu”. Lehernya terikat kalung perak yang tertuliskan namanya. Kulitnya yang seperti salju dikutub utara mendukung penampilanya. sehingga apapun yang ia kenakan selalu terlihat pantas. Melangkah pelan menemui mama yang berada di ruang makan, beberapa pasang mata terkejut melihat Linka yang sudah siap pergi kesekolah terutama sosok pemimpin di rumah ini “ayah”.
Sayang.. kenapa berangkat sekolah?” dahi ayah berkerut seakan tidak nyakin dengan keadaan Linka sekarang, “keadaanmu belum membaik nak!” seraya mengusap rambut putri bungsunya.
“Linka sudah sembuh yah, ayah tenang saja anakmu yang satu ini bisa menjaga diri dengan baik” jawabnya penuh semangat nunjukin senyum pepsoden.
“Linka, kata ayah perlu istirahat dulu” sahut mama yang lagi berkreasi di meja makan.
“Kalau gitu, nanti kamu diantar kakak ya dek. Mumpung dosen kakak lagi honeymoon” tambah Bella ketawa kecil.
“Kalian semua tak usah khawatir. Linka baik-baik saja”
                     Bella mengantarkan dengan mobil pribadinya, Linka duduk di depan memendangi luar yang terlihat banyak kendaraan berlalulalang. Bella hanya mengantarkan didepan pintu gerbang seraya menodorkan bekal untuk Linka. Ia masih memandang mobil kakaknya hingga tak terlihat dari tempat berdirinya. Lalu ia berjalan menuju kelas yang berda di sebelah utara berdekatan dengan aula. Senyumanya terulas lebar, matanya berbinar, begitu juga jantungnya beretak kencang setiap ia melihat sesosok pria yang tengah menunggu di depan kelas.  Hampir satu minggu pria itu menunggu kedatangan Linka entah apa maksud dan tujuannya tapi itu adalah suatu hal yang berbeda. Semakin melangkah jarak keduanya semakin dekat, dan seperti biasanya pria itu hanya mengucapkan selamat pagi Linka-pun membalasnya ramah.
                     Karina sahabat dekatnya menyambut ramah, membukakan jalan dengan menggeserkan bangku kebelakang. Linka terduduk manis. Senyumanya terhenti ketika mendengar ledekan Karina. Pelajaran terus berlanjut tenang, hingga masa aktif belajar mendekati pulang. Matanya terlihat sayu pandanganya tak karuan, melihat satu orang seperti melihat piring yang tersusun rapi mempunyai kembaran yang berjejeran. Ia terus ingin berjalan beriringan dengan Karina. Langkahnya terhenti, mulutnya tak bisa berkata, ia seperti di dalam pusaran angin dahsyat, kedua tanganya memegang kepala. Badanya terjatuh tanpa alasan. Seketika semuanya terlihat gelap.
                   Karina terus mengolesi “fresscare” seraya menekan tungkak Linka. Karina terus berusaha agar Linka segera sadar. Alhasilpun kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, bulu matanya yang begitu lentik bergoyang pelan. Ia melihat Karina dan sosok cowok yang menunggunya di pagi hari, dia adalah Picko sosok cowok yang begitu perhatian. Entah apa tujuanya, Linka masih belum bisa mengerti. Sesekali Linka ingin duduk bersandar Karina terus menahanya karna keadaanya belum stabil.
“Rin..aku dimana?” Linka terus memegang kepalanya, “kepalaku pusing Rin” desisnya lembut.
“Kamu berada di puskesmas Lin, tadi Picko yang membawamu kesini” terangnya sembari mengusap-usap kepala Linka.
“Kamu nggak boleh banyak bergerak Lin. Keadaanmu masih lemah” Picko mulai berkata, sikapnya terlihat begitu khawatir.
“Makasih ya pick..kamu sudah nolongin aku, Rin tolong telvon mamaku kalau pulangku nanti. Jangan bilang keluargaku kalau tadi aku pinsan, bilang aja aku main kerumahmu bentar” pinta Linka, Karina-pun mengikuti perkataannya.
                         Matahari mulai menghilang perlahan, menampakan keindhanya di Barat yang terlihat oleh kasat mata dari garis lautan, kini Bulan telah tiba mengusai langit ketika petang datang. Menjanjikan mimpi-mimpi penuh imajinasi. Membuat para penumpang ingin segera menyaksikan. Linka sampai dirumah mendekati waktu isyak,  keluarganya tengah berkumpul di ruang tamu menunggu kedatanganya. Wajahnya yang masih terlihat pucat tidak bisa dihindari. Pertanyaan dari orang sekitar terus membujuknya agar ia berkata jujur, Linka terus mengelak ia hanya menjawab kelelahan. Tanpa harus berfikir panjang langkahnya terus berjalan menuju kamar, beristirahat dengan tenang itulah yang harus ia lakukan sekarang. Meski mengabaikan orang yang telah menunggunya lama, baginya membuat orang yang di sayangi tidak merasa khawatir adalah hal yang terpenting.
                         Kekuatanya begitu besar, semua yang ia rasakan selalu dihiraukan bahkan tak seorang-pun keluarganya tau bahwa ia menyidap penyakit anemia yang ia derita sejak kelas 1 SMA, karina yang mengerti keadaan nya sebenarnya ia tak tega dan ingin mencritakan kepada keluarganya linka. Tapi, linka terus melarangnya. Akhir-akhir ini penyakitnya seakan tak bisa diatasi. Dokter terus menyarankan untuk rawat inap, linka tetap saja terus menolak. Rasa demam sering ia rasakan bahkan keseringan untuk mampir ke tubuh Linka dan masih banyak gejala yang ia alami. Disisi lain Linka tak cuma diam. Dia juga berusaha untuk mengobati dirinya memakan daging,sayuran,susu,dan lain sebagainya. Karena penyakit anemia sel sabitnya tidak terdapat B12 dan kekurangan hemoglobil.
                            Rasa sakitnya mulai terasa di depan kakaknya dan kedua orang tuanya. Air mata-pun seakan terkode oleh Linka agar tidak menampakan diri mengalir tak beraturan. Bohong untuk sekian kalinya,  berpura-pura ingin pergi ke toilet padahal ia merengek kesakitan di dalam kamar. Lalu ia meraih baby mungil dalam laci. Jemarinya berjalan secepatnya untuk chat Karina melalui twiteer.
@karina_milla
Rin..gue udah nggk tahan, cabut yuk!!
@Linka_andriya
Iya Link, gue kesana sekarang.
Deru mobil Karina terdengar jelas tiba dirumah Linka. Belum sempat Karina menemui orang tua Linka, Linka menyuruhnya untuk cepat pergi. Sebelum itu ia tetap mengutamakan ijin pergi bersama Karina. Wajahnya terlihat layu bahkan menjawab pertanayaan dari Karina ia sudah tak berdaya. Laju mobil dipercepat menuju rumah sakit Permata Hati, menemui dokter pribadinya. Pak Cipto yang telah menangani Linka sejak 2 tahun yang lalu. Belum sempat tiba di tempat tujuan Linka sudah jatuh pinsan. Sesampai di rumah sakit Linka langsung ditangani beberapa perawat yang berjaga didepan. Tangisan Karina bercucuran, ia tak tahu harus berbuat bagaimana melihat sahabatnya terbujur lemas memasuki ruang UGD. Hatinya benar-benar merasa terguncang. Karina-pun langsung mencari Contac Person Bella untuk segera di hubungi. Tarik nafasnya diatur, untuk bicara  tenang agar kak Bella tidak sepontan. Lima belas kemudian Bella terlihat berjalan cepat mendekati Karina yang duduk sendirian.
“Rin, bagaiman akeadaan Linka?, dia sakit apa?” tanyanya seraya memegang pundak Karina.  Air matanya mengalir deras. Sedangkan Karina hanya diam dalam isaknya. Bella bergerak cepat mendekati , menanyakan keadaan adiknya. Karina mengikutinya.
“Dok, bagaimana keadaan adik saya”
“Keadaannya semakin melemah. Hb.nya sedang 6 gr/dl-7,9 gr/dl dia memerlukan darah. Untungnya pihak rumah sakit masih ada persediaan darah untuk Linka” jelas Dokter Cipto detail.
                                 Selang-selang melingkari tubuhnya. Raut wajahnya terlihat amat pucat. Tangannya melemas, tapi senyumnya terukir jelas. Ia sosok wanita yang kuat. hanya menunggu waktu, matanya akan kembali ke dunia nyata. Bella mencium kening adiknya yang terlihat malang. Karina mengusap berkali-kali tangan Linka. Keduanya duduk berhadapan disamping Linka, menunggu agar ia segera sadar. Akan tetapi ketika seorang lelaki tampan masuk dari balik pintu menuju tempat yang di duduki Karina, Karina tersenyum melihat Picko yang akan menjenguk Linka. Bella menghiraukan kedatangan Picko, pandangannya hanya tertuju kepada Bella.
.                                Semburat merah jingga menyemburkan rekah kerinduan yang tak terhingga, kepada sosok Linka yang terlihat ceria. Malam mulai nampak, sejak mentari datang hingga sekarang ia masih belum siuman. Malam ini mereka bertiga menemani Linka, tidur di lantai yang hanya berlapis kerpet tipis. Picko membawakan tiga bungkus nasi serta lauknya untuk ia makan bersama Karina dan Bella.
“Karina dan Kak Bella, kita makan dulu. Pasti dari tadi pagi kalian belum makan” tawar Picko, seraya menodorkan makanan ke arah mereka berdua. Karina mengikuti perkataanya. Sedangkan Bella masih diam di tempat.
“Kak Bella makan dulu ya,” bujuk Karina lembut, “nanti kalau kak Bella nggak mau makan, kasian Linka pasti dia ikut merasakan”
“Kamu benar Rin” Picko angkat bicara.
“Iya Rin, makasih ya kalian berdua sudah mau menemani Linka disini” ujar Bella melempar sedikit senyuman.
                               
                                 Udaranya lebih terasa. Berbeda dengan pagi sebelumnya, kali ini angin menerobos lapisan-lapisan kulit membaluti tulang yang berada di dalam. Sisa air menetes perlahan menyisakan tangisan awan tadi malam. Bahkan burung lebih memilih tetap di dalam sangkar, hingga sang Surya kembali memberi kehangatan. Linka masih setia dalam tidurnya, sedangkan mereka bertiga telah bangun ketika fajar datang. Karina menunggu Bella yang sedang membersihkan badan di dalam kamar mandi, agar ia juga bisa membersihkan badannya yang terasa lengket.  Picko membawakan sarapan seadanya, mereka-pun menikmatinya. Usai itu mereka bertiga duduk di sebelah Linka seraya mendoakan agar segera sadar.
                                  Beberapa suster telah masuk ruangan di sertai dokter yang mengatasi Linka hari ini. Matahari semakin tampak. Linka masih setia dalam mimpinya, wajahnya lebih tampak sayu dari hari-hari sebelumnya. Bahkan ia tak mengerti semua orang yang menunggunya sangat khawatir akan keadaannya.
“Dok, bagaimana keadaan adik saya” tanya Linka setelah dokter keluar dari ruangan.
“Keadaannya memprihatinkan. Jika nanti dia sudah siuman, tolong segera panggil saya”
Dret..dret..dret...dret...
Getaran Handphone Bella terdengar jelas. Dilihatnya layar ponsel. Nomor yang sudah tertera nama Mama. Jantungnya berdetak kencang, ia khawatir jika mamanya bertanya tentang Linka. Sebisa mungkin ia menahan tangisan agar tak terdengar di sebarang sana.
“Hallo Ma..” ucapnya datar.
“Hallo Bel, kamu sekarang dimana? Mama khawatir terjadi apa-apa dengan kamu dan Linka. Linka bersama denganmu bukan?” pertanyaan mama meluncur cemas.
“Aku dengan Linka lagi belibur Ma. Tadi malam handphone kita berdua lowbet. Sekitar dua hari lagi kita pulang” jawab Bella seraya menahan isak.
“Ya sudah kalau begitu. Jaga diri baik-baik, salam buat Linka” pesan mama menutup telephone. Hembusan nafas Bella terdengar lega usai menerima telephone dari mamanya. Isaknya mulai menjadi-jadi. Duduk diluar ruangan seraya di temani Karina yang terus mencoba meredakan tangisan Bella.
“Kakak yang tenang, aku yakin sebentarlagi Linka akan sadar”
                                   Pesona malam mulai datang. Mega merah mulai pudar. Sesekali meraka mendengar suara lirih menyebut nama Karina. Jemari tanganya berkutik pelan seakan memainkan piano. Semua mata tertuju padanya, mereka tersenyum lembut di iringi air mata bahagia. Rasa syukur terhadap Sang Pencipta melihat Linka bangun dari tidurnya.
“Rin.. kepalaku pusing, aku ada dimana sekarang” ujar Linka terpatah-patah.
“Kamu tenang ya Link. Sebentar lagi kau akan sembuh” jawab Karina menenangkan.
“Kak Bella, Picko.. kenapa semuanya tau Rin”
“Adekku sayang.. kamu yang tenang. Kakak di sini menemanimu,” sahut Bella sembari mengusap kening Linka, “kamu harus kuat”.
“Cepat sembuh Linka” tambah Picko melempar senyum.

                                     Semerbak harum surga tercium kental. Wajahnya kembali sumpringah. Kini ia kembali dalam pelukan keluarga. Semua kejadian beberapa hari yang lalu, mencoba ia sembunyikan. Ia tak ingin membebani fikiran kedua orang tuanya. Sambutan rasa rindu seorang ibu, Linka di peluk erat begitupun juga dengan Bella.
“Mama rindu kalian, kalian pergi memeberi kabar”
“Linka juga rindu mama” Linka tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Papa juga merasakan hal yang sama” sahut papa lirih.Keharmonisan kemabali utuh. Menghabiskan waktu sore bersama keluarga, tertawa bahagia seakan beban dalam hidup lepas seketika. Bella sekejap melihat Linka ketika ia tertawa, “Adikku sungguh hebat! Dia tegar dalam menghadapi rintangan” batin Bella membuat percakapan dalam dirinya. Kecerian terhenti ketika malam kembali datang, mengahayutkan setiap orang. Semuanya terlelap nyenyak menikmati jatah mimpi malam ini. 
                                     Ketukan pintu membangunkan Linka, dilihatnya jam dinding yang berada didepannya menunjukan pukul  07.15 WIB. Ia menarik selimutnya, mengabaikan yang berada diluar.
“Link..bangun, kamu lupa ini hari apa?” teriak Bella mengingatkan. Linka beranjak dari kasurnya membuka.kan pintu kakaknya.
“Maaf kak, Linka lupa”
“Ya sudah.. kita belanja sekarang ya. Buat acaranya istimewa”
“Hari ini Linka ingin merayakan ulang tahun pernikahan mama sama papa dengan sederhana. Bertema sanctity kita cukup menghias kamar mama dengan nuansa serba putih. Semuanya sudah Linka persiapkan kak,” Linka menjelaskan idenya, kening Bella berkerut menandakan kurang setuju “boleh ya kak, permintaan terakhir dari Linka” Bella tersenyum kecil seraya menganggukan kepala sebagai tanda setuju.
                                      Kamar mulai dihias dengan peralatan yag sudah di siapkan Linka. Semuanya serba putih begitu juga dengan balonya. Beberapa warna yang beda hanya sebagai pemanisnya. Sudut- sudut kamar diberi bunga dan beberapa tulisan. Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, jam 10 tepat semuanya sudah selesai. Linka mengganti pakaiannya dengan gaun putih, rambutnya dihias rapi.
“Link.. kenapa kau memakai gaunmu sekarang? Bukanya ini masih pagi, acaranya nanti malam Link”
“Linka ingin menikmati gaun ini kak, Linka lelah, Linka ingin membaringkan badan dengan memakai gaun ini”
“Kamu bicara apa Link? Keadaanmu baik baik saja bukan?”
“Iya kak, Linka mau tidur. Bangunkan Linka jika acarnya dimulai”
                                        Linka menyiapkan beberapa bingkisan. Sebelum tidur ia sengaja menaruhnya disebelahnya. Iapun tertidur pulas membawa semua bebanya pergi. Dan kini ia tak akan pernah merasakan sakit yang begitu dalam. Waktu yang telah di tunggu, mama dan papa telah tiba. Bella telah menghias dirinya secantik mungkin, menemui orang tuanya orang tuanya. Bella mengayunkan langkahnya menuju kamar yang telah di hias.
Surprise” sorak Bella gembira. Kedua orang tuanya tak jub.
“Trimakasih sayang” ujar mama dan papa beriringan, “Linka dimana bel?”\
“Linka tidur ma, kita buat dia terkejut yuk” usul Bella, merekapun setuju. Dibukanya kamar Linka, Linka terlihat tertidur pulas dengan ekspresi wajah tersenyum. Wajahnya terlihat pucat. Bella menggoyangkan tubuh Linka, tapi tidak ada respon darinya. Terlihat tulisan disampingnya, ayahpun membacanya.“Selamat buat mama dan papa, semoga kebahagian selalu menghampiri. Linka pamit ya, biarkan Linka tenang bersama angin” Semuanya menangis melihat Linka terbujur lemas. Sang pencipta telah menjemput pulang. Bella mulai menceritakan penyakit yang di alami Linka, serta kejadian beberapa hari yang lalu. Semuanya menangis terisak-isak seraya memeluk Linka erat. Sekarang ia tak akan mengalami penderitaan dan telah senang di alam sana.

SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sisa Siksa

PARASIT