Suapan Kopi
by : Weny rachmasari

Rachma masih saja setia mengisi lembaran kertas putih yang telah menjadi sahabat kecilnya, baginya kertas putihlah yang bisa memahami isi hatinya, selalu menerima keadaan hati Rachma walaupun tak pernah berkomentar. Ia cukup puas mengungkapkan rasa suka ataupun dukanya, tarian tangannya begitu tenang pandanganya samar tapi, Rachma tak pernah bosan memenuhi kertas putih yang slalu menceritakan keseharianya. Jam dinding menunjukan tepat pukul 23:25 WIB, dalam hitungan detik matanyapun telah tertutup rapat, sepi, sunyi, sendiri itulah keadaan yang diterima Rachma, kesibukan kedua orang tuanya menjadikan alasan atas keterpurukan Rachma.
Kilauan Sinar pantulan dari jendela kamar memancing sepasang mata terbangun dengan terpaksa. Alamr jam beker berdemo mengingatkan tepat pukul 06:00 WIB, ditambah ketukan mbak Mina mengusik suasana didalam
“Aarrrghhh.....”
“Iya mbak, Rachma bangun “. Rasa kantuk yang dirasakanya segera ia hilangkan, guyuran air yang membasahi tubuh membuat mata terbuka lebar, dress panjang berwarna ungu berpadu abu-abu ia kenakan dilengkapi hijabnya yang menyesuaikan.
“ Non Rachma.. sarapan dulu, Non! “ panggil mbak Mina, kakinya terayun ke arah sumber suara.
Tampilan Rachma yang begitu berbeda membuat pandangan mbak Mina tanpa kedip, bukanlah seragam putih abu-abu yang sekarang mbak Mina lihat ataupun seragam almamater dari sekolah Rachma, hijab yang begitu anggun dikenakan Rachma yang menurut mbak Mina sangat berbeda baru kali ini rambut panjang yang tertata rapi dengan aneka pernak-pernik di atasnya kini terbaliut hijab. Rachma meminta pak Cipto dan mbak Mina untuk menemani sarapan pagi.
“ Do’ain Rachma ya, hari ini Rachma pertama masuk kuliah, “ ujar Rachma hening. Mbak Mina dan pak Cipto tersenyum bahagia mereka memberi ucapan semangat atas keberhasilan Rachma. Ia hanya terdiam, kumpulan air mata yang akan keluar terlihat begitu jelas.
Ayah..Bunda... itulah yang ada dipikran Rachma, seharusnya mereka ada disini ikut serta mendoakan memberi pengarahan awal memjadi mahasiswi lagi pula mereka tak tahu anak semata wayanya masuk di Universitas ternama di daerah Jakarta. Mengapa ayah harus menjadi pengusaha.? Pertanyaan kecil yang slalu disimpan rapat-rapat oleh Rachma, keadaan dulu yang seadanya bahkan waktu ayah masih menjadi seorang guru justru lebih membuat Rachma nyaman, ternyata menjadi seorang yang kaya dadakan tak seenak yang Rachma bayangkan.
Hari ini Rachma meminta pak Cipto agar tidak mengantarkan ke kampus, usai tiba dikampus langkahnya menuju lobi yang menjadi pusat informasi bagi mahasiswa baru. Fakultas Hukum, sebuah Fakultas yang diimpikan Rachmasejak ia berada di bangku SMA. IQ.nya yang tinggi dan usahanya yang luar biasa, alhasilpun Rachma diterima di Falkutas Hukum. Mendengar banyak koruptor semakin merajalela begitu juga kasus Kopi yaitu kasus korupsi Rachma menyingkat sebutan Korupsi dengan kopi katanya lebih terlihat elegan dalam pengucapan, itulah yang menjadi alasan Rachma mengambil fakultas hukum. Sapaan seorang gadis sebayanya yang bernama Ninda mengajak Rachma untuk memasuki ruangan. Jam 15:00 WIB mayoritas mahasiswa sudah meninggalkan kampus, tanpa ada acara pergi Rachma memutuskan untuk pulang kerumah menemani mbak mina dan pak Cipto. Bunyi klakson yang dibunyikan Rachma mengkode pak Cipto untuk membukakan pintu gerbang, tak seperti biasanya seluruh ruangan terlihat gelap apa mungkin mbak Mina lupa menyalakan lampu besar. Alunan Piano yang sering dimainkan Bunda terdengar begitu indah dari ruang tengah.
“ Surprise..!!!!!!.”. seru Bunda mengejutkan Rachma, pelukan yang begitu elat atas pelampiasan rindu Rachma.
“ Bunda...ayah mana, aku rimdu sekali Bun. Aku rindu kebersamaan di rumah ini. Jangan tinggalin Rachma sendirian. Bunda jangan pergi lagi ya?“, pinta Rachma meneteskan air mata, bermanja-manjaan dengan bunda sampai malam di lakukan Rachma hingga ia tertidur lelap dalam pelukanya.
Mentari pagi membawa kedamaian, burung-burungpun ikut merayakan, Rachma yang biasanya masih bermalas-malasan di kamar akan tapi berbeda dengan hari ini Ia lebih memilih di dapur untuk menyiapkan beberapa menu sarapan kesukaan bunda, mebeuatkan jus dan lain sebagainya. Mbak Mina yang hanya ditugaskan untuk membangunkan Bunda agar segera menikmati hidangan yang telah di sajikan Rachma.
“ Wow.. ini semua masakan Rachma. Buat Bunda ya sayang.? “ tanya Bunda seraya tersenyum kagum.
“ Iya Bun.. tapi sayangnya ayah nggak berada disini. Gimana kalau Rachma nelfon Ayah dulu ya Bun.? “ Dahinya berkerut mengingat Ayahnya yang berada di luar kota, Rachmapun segera menelfon Ayahnya. Panggilan telah disambungkan tapi tidak ada jawaban, beberapa kali terus di coba Rachma hingga hasilnya tersambung dengan Ayahnya.
“ Ayah.. ayah kapan pulang? Rachma rindu dengan Ayah “
“ Iya sayang.. bentar lagi ayah pulang “ kata bunda. Ramai suara yang terdengar dari kejauhan membuat ayah memutuskan sambungan. Mungkin di sana terlalu sibuk hingga menelfon sebentar lalu dimatikan. Merekapun memulai sarapan, Rachma yang menyelingi dengan menceritakan pendidikanya sekarang dari ia mulai mengambil falkutas Hukum karna alasan ingin memberantas korupsi disisi lain Rachma berharap Bundanya mendukung tekat Rachma, tapi disisi lain ekspresi Bunda seakan tidak menyetujui pilihan Rachma dan anehnya Bunda meninggalkan Rachma dimeja makan sendirian tanpa meninggalkan alasan.
Ayah Rachma yang terlalu sibuk dengan usaha- usahanya di luar sana. Tubagus Chaeri Wardana nama ayah Rachma sering disebut juga Wawan yang dikenal banyak orang sebagai seorang pengusaha yang kaya raya dengan banyak saham dimana –mana. Bagi Rachma Harta yang berlimpah fasilitas komplit tak menjadi kebahagian dengan Rachma berkumpul utuh dengan keluarga itulah yang selalu di harapkan Rachma. Dari awal Rachma menjadi mahasisiwi hingga sekarang Rachma sudah skripsi ayahnya tak pernah datang dipelukanya, ia hanya menahan tekanan batin yang ia rasakan berpura-pura memahami keadaan keluarga, itu semua ia lakukan semata wayan agar pekerjaan orang tuanya tidak terganggu. Hari ini Rachma mendapat tugas ilmiah di kampusnya membahas “ Pemberantasan Kruptor “. Ninda, David, dan Anfi yang akan membantu Rachma dalam menyelesaikan tugas dan bukan hanya itu saja Rachma juga ditunjuk dalam menghadiri sekilas wawancara bersama dengan KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ). Tugas ini adalah salah satu tugas skripsi buat Rachma, menjadikan latihan dasar menuju cita-cita yang di inginkan selama ini.
“ Bismillah..semoga lancar “ Ujar Ninda mendoakan Rachma.
“ Iya Nin.. doanya saja ya. Makasih juga buat kalian yang sudah bantu aku, tanpa kalian aku tak akan bisa seperti ini “ Jawab Rachma seraya memberikan sebuah bingkisan kepada sahabat – sahabatnya.
Pak Riyanto dosen Rachma yang akan menemani wawancara, tepat di Jalan. HR Rasuna Said Kav C-1 setiabudi, Jakarta selatan. Terlihat gedung mewah bercat putih perpaduan hitam tepat didepanya mobil berhenti. Gemetar, panas dingin yang dirasakan Rachma mencoba ia Kontrol agar tak menggangu saat wawancara berlangsung. Banyak seorang pejabat besar mengenakan kemeja hitam telah hadir, salah satu dari mereka menanyakan asal Rachma dan Orang tua Rachma tapi, ia terdiam seolah-olah tak mendengar apa yang telah ditanyakan ia sengaja menutupi identitasnya yang berasal dari anak seorang pengusaha.
“ Selamat datang buat kalian mahasiswa-mahasiswi,kami sangat bangga terhadap kalian semua seorang remaja yang mempunyai tekad besar dalam memberantas para Koruptor “ Tanya seorang moderator di iringi dengan tepukan yang memeriahkan suasana. Wawancara telah dimulai sekitar sepuluh mahasiswa dari berbagai kampus ikut serta hadir, pertanyaan awal diberikan kepada Rachma mengenai UU pada bab II yaitu Tindak Pidana Korupsi pasal 6.
“ Trimakasih buat bapak moderator yang telah memberi kesempatan pada saya, pada pasal 6 telah tertuliskan setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 210 kitab UU hukum pidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lambat 15 tahun “ jawaban yang begitu tegas terlontar dimulut Rachma, pandangan mereka yang begitu kagum, seakan menghipnotis siapapun yang telah hadir. Wawancarapun telah selesai, seorang ketua KPK bapak Taufieque Rachman Ruki mendekati Rachma.
“ Maaf Rachma, saya menawarkan anda untuk menjadi seorang mata-mata, saya menugaskan anda menyelidiki seorang pengusaha yang tertuduh kasus suap terhadap ketua Mahkamah konstitusi, akil Mochtar, dan tindak pidana penyucian Uang. “
“ Iya pak saya bersedia,” tungkas Rachma. Iapun diantarkan Dosenya kembali kerumah.
Sedikit melelahkan buat Rachma, akhir-akhir ini ia begitu sibuk dengan berbagai tugas menghubungi kedua orang tuanya belum disempatkan Rachma ditambah tugas baru yang menurutnya cukup beras untuk menyelesaikan masalah ini. Mulai dari Bulpoin, kamera-kamera, Handycame telah ia persiapkan. Sahabat-sahabatnya diminta untuk menemui Rachma di taman, ia meminta bantuan agar masalah ini cepat terselesaikan.
“ David,Ninda, dan kamu Anfy aku minta bantuan kepada kalian untuk menyelidiki kasus penyuapan dari seorang pengusaha ”
“ Siap Komando laksanakan tugas! “ jawab mereka serentak, membuat Rachma tertawa riang seraya berkata “ you are my spirit “.
Hari demi hari mereka bekerja keras, alhasilpun mereka berhasil menguak kasus itu sampai ke meja hijau meski belum diketahui siapa dalang dari semua ini tapi setidaknya anak buahnya telah tertangkap basah, dengan akal cerdiknya Rachma meminta kepada anak buah tersangka untuk membawa bosnya dalam persidangan besok pagi jika tidak mereka terancam penjara 10 tahun. Banyaknya jutaan bintang dipimpin bulan kini semakin hilang satu persatu melihat malam yang semakin larut, berbeda sekali dengan malam-malam sebelumnya khususnya malam ini Rachma merasakan firasat buruk, entah ia tidak siap dalam menghadapi kasus besok ataupun hal lainya. Mbak Mina mengantarkan sarapan dikamar Rachma, dan hari ini Rachma di antarkan pak Cipto mendatangi sidang tersebut. Perasaanya kacau, hatinya seakan berkata tak ingin hadir dalam persidangan tersebut banyak sekali para pejabat disertai wartawan. Sebuah kursi besar tertata rapi di sebelah hakim telah di siapkan untukku seorang terdakwa juga telah menempati kursi paling depan. Persidangan dimulai. Wajah Rachma memerah melihat kehadiran Ayahnya didampingi dua bodigard, terlihat juga Bundanya mendampingi. “ Apakah ayah dalang dari semua ini.? “ selipan pertanyaan yang ingin dipertanyakan Rachma.
“ Kepada Anda, Saudara Tubagus Chaeri Wardana telah terdakwa atas suapan terhadap ketua Mahkamah Konstitusi, “ ucapan hakim begitu lantang seraya mengetukan palu. Tak kuasa Rachma menerima pernyataan yang begitu berat iapun bergegas meninggalkan tempat didampingi dengan sahabat-sahabatnya yang coba menenangkan Rachma. Air mata mengalir deras, badanya mulai terbujur lemas di pangkuan Ninda tak kuat ia mengungkapkan kata-kata ditambah ia mendengar Ayahnya harus di penjara selama 8 Tahun dan mengganti uang miliyaran. Bundanya yang memeluk Rachma dengan erat tak mampu juga menahan air mata. Sebelum Ayahnya di bawa ke jeruji besi, Bunda Rachma mengajak agar Rachma bertemu sebentar dengan Ayahnya.
“ Rachma putriku... Maafin kesalahan Ayah. Ayah rindu kamu, Nak, “ ucap Ayah liriih. Rachma hanya terdiam membisu. Pelukanya terlepas ketika seorang bodigard segera membawanya pergi. Kenapa disaat aku berhasil memberantas satu koruptor.. kenapa harus ayahku sendiri. Bertahun – tahun aku sudah tidak dipertemukan dengan Ayah dan sekarang pernyataan tadi membuatku semakin terpuruk semoga ini menjadi pelajaran buat lainya ucap Rachma dalam hatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sisa Siksa

PARASIT