Mahkota di Tanah



Mahkota di Tanah

“Kita asingkan saja!”
“Pak lurah, mereka adalah musuh!”
“Jangan sampai kita dikucilkan!”
“Mereka harus pergi dari desa kita.”
“NKRI harga mati!”
***
            Suasananya terlihat begitu kacau. Pembicaraan dari ujung sana hingga ujung sini tak ada bedanya. Beberapa berita tersebar keseluruh desa. Handphone bergetaran terus menerus, membicarakan hal yang sama di beberapa grup whatsaap. Mulai dari kalangan ibu-ibu rumpi, tongkrongan anak muda, bapak-bapak yang suka nongkrong diangkringan dan lain sebagainya. Kini di desa tidak ada lagi acara-acara musyawarah, kerja bakti, yang khususnya mempererat tali persaudaraan. Kebersamaan hilang ke telan ombak. Terlihat begitu jelas dalam mata yang berkata, bahwa terjadi permusuhan saudara. Terkadang, mereka yang beragama.. mereka pula yang tak berakal karna dibutakan dunia.
Kini wajahnya terlihat begitu resah. Terasa ada setumpuk bayangan beban diatas kepala. Lidahnya menjadi kelu. Ia hanya terdiam duduk dikursi. Tangannya mengepal erat. Tertunduk murung. Tak seorangpun berani mendekat. Rupanya laki-laki itu sedang diguncang tekanan batin. Diseberang kursi terlihat ibu dan Kanzia terdiam seraya mengamatinya. Kanzia meranjak pergi memilih untuk membuatkan kopi dengan resep khusus ayahnya. Dengan pelan, kopi dihidangkan didepan ayahnya. Ia kembali ketempat semula. Silang beberapa menit, ibu menghembuskan nafas lega. “Akhirnya” gumam ibu melihat ayah meneguk kopinya.
“Sudahlah yah, jangan terlalu difikir” ibu mendekati, mencoba mencairkan suasana.
“Sebenarnya ada apa yah? Kanzia tidak mengerti”
“Ayah sedang bingung. Lihatlah desa kita sedang dilanda konflik. Sebagai kepala desa ayah tidak bisa diam.” Kanzia tertunduk. Ia mencoba masuk dalam dunia ayahnya. Perdesaan yang dulu kian harmonis, kini berubah dalam sekejap.
            Dengan perlahan ayah menceritakan kejadian esok tadi. Terdapat beberapa warga protes, datang ke balai desa. Perguncingan antara NU dan Muhammadiyah semakin kuat. Seharusnya tidak harus terjadi pertengkaran hebat dalam agama yang sama. Bahkan kelompok Muhammadiyah ingin mendirikan kepala desa sendiri. Mana mungkin satu desa terdapat dua pemimpin. Mengingat masa lampau, zaman baginda Rasul. Dimana perang siffin itu terjadi. Ya perang persaudaraan, tepatnya 1 Shafar tahun 37 H/ 26-28 Juli 657 M. Semuanya terjadi begitu saja. Di luar rencana.
“Ayah, ibu, Kanzia pamit sebentar”
“Mau kemana nak?” sahut ibu.
“A..a..a.. Kanzia ingin menemui Lela bu”
“Pergilah nak              
            Di ujung sawah dalam gubug kecil, Lela telah menunggu. Kali ini mereka benar-benar mencari tempat aman. Menjelang senja para petani tak mungkin berlalu lalang di sawah. Hanya ada padi, rerumputan, angin dan burung. Mungkin mereka akan tau, dan akan menjadi pendengar sementara. Setiba disana dengan erat Lela memeluk Kanzia. Air matanya mengalir deras. Cadar yang ia kenakan menjadi lembab. Suasana haru, semuanya diluar dugaan Kanzia.
“Lela, mengapa engkau menangis?”
“Lela, bicaralah apa yang sedang terjadi?”
“Lela, janganlah engkau diam saja”
Pandangannya terangkat menuju Kanzia. Dengan tersedu-sedu Lela menceritakan semua perkataaan abi dan uminya. Spontan Kanzia terkejut, ia memalingkan muka merasa kecewa. Disisi lain Lela tak tahu harus berbuat apa. Tangisannya menjadi-jadi. Perlahan Kanzia mundur sembari mengarahkan kelima jarinya dalam ­posisi beridiri. Ia menahan isaknya dan lari begitu saja meninggalkan Lela. Bahkan kanzia tak merespon. Ego telah menguasai dirinya.
            Hatinya benar-benar kacau. Matanya memerah. Seusai shalat berjamaah magrib, beberapa pertanyaan ayah dan ibu bermunculan. Tapi, ia tetap saja membungkam.  Ia hanya butuh waktu untuk menceritakan kejadian sore tadi. Kanzia memilih menenangkan diri dikamar. Mencari sebuah ketenangan. Sebelum ia memulai, nafasnya benar-benar diatur. Suaranya terdengar begitu indah. Meskipun berirama mahrajnya tetap terdengan jelas, sunggu luar biasa. Siapapun yang medengarnya akan berkesima bahkan tertegun lama menikmati alunan yang berirama merdu. Orang yang sakitpun akan sembuh mendadak, sungguh mujarab untuk pengobat hati.
“Kanzia” sapa ibu mendekati. Dengan sergap Kanzia memeluk erat ibu. Al-quran yang ia bawa dikembalikan ketempatnya, ibu membantu melepaskan mukena yang ia kenakan. “Sekarang tidurlah nak, kau butuh istirahat” Kanzia mengangguk. Lampu yang terang menghilang. Tenang, sunyi, sendiri. Move on dari masalah sejenak, hijrah dengan dunia fiksinya. Lelap.
            Ayam berkokok telah mengusik. Mata masih tak bisa diajak kompromi. Sembab tadi malam masih belum hilang. Andai saja ibu dan ayah tak melarang Kanzia tidur sampai siang, mungkin ia akan melanjutkan mimpinya. Badanya lemas, hatinya masih tak bisa terima. Perkataan itu masih terekam jelas. Beberapa macam menu sarapan telah dihidangkan. Semuanya telah rapi dengan jadwal seragam yang dikenakan. Kanzia mulai menceritakan kejadian tadi sore, bahwa Lela telah memutuskan untuk tidak berteman dengan Kanzia. Alasannya kedua orang tuanya melarang karena sekarang NU telah dianggap musuh. Melihat konflik yang terjadi di desa hingga hubungan persaudaraan menjadi permusuhan. Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah memanglah menjadi perdebatan sejak dulu. Meskipun diluar terjadi kericuhan antara kedua kepercayaan tersebut, nyatanya di desa ini damai-damai saja. Bedanya sekarang cuma terjadi sedikit persilihan yang belum terselesaikan.
            Sebagai pak lurah, ia mencoba untuk datang tepat waktu. Para petani kini berganti profesi mencari kericuhan di depan kantor. Semuanya memberontak. Wajahnya tegang. Mata saja tidak bisa dikondisikan dihadapan pemimpin. Emosi, kekecewaan menjadi es campur yang telah berkolaborasi. Sesampai pak lurah datang, suasana menjadi mengguncang. Beberapa karyawan membantu pak lurah untuk melewati bapak-bapak agar bisa masuk ke dalam. “Bapak-bapak semuanya, apa yang bapak-bapak inginkan disini. Jika mencari perdamaian caranya bukan seperti ini” tungkas pak lurah. “sekarang bapak-bapak kembali saja, masalah ini akan kita bahas setelah habis shalat ashar di balai desa. Siapun diperbolehkan hadir” lanjut pak lurah. Semuanya sepakat akan hal itu. Sedikit ada rasa kekecewan untuk mempalingkan badan. Tapi, setidaknya sudah diambil keputusan. Peraduan mulut akan berlanjut.
            Rapat para pamong-pamong desa akan dimulai. Serentak, semuanya berkumpul dalam satu ruangan. Perangkat di desa ini tak semuanya NU, ada beberapa perangkat dari golongan Muhammadiyah. Semuanya bisa menerima dengan satu sama lain. Hal ini dikarenakan agar tidak terjadi perselisihan antara Muhammadiyah dan NU. Meskipun dominan NU, tetapi disini Muhammadiyah juga tak kalah bedanya.
“Melihat perpecahan yang terjadi di desa kita, tanpa kita tahu apa sebab mulanya  maka mari semuanya membantu mencari solusi agar desa kita kembali seperti semula” ucap pak lurah memulai pembicaraan.
“Sebelumnya, saya minta maaf jika perkataan saya ini dibilang dalam tindakan Suuzdhan. Beberapa hari yang lalu saya melihat dua ibu-ibu asing nongkrong di tempat kopi pak Wan dengan lagak yang mencurigakan. Sedangkan mereka sedang berbincang serius dengan empat anak SMP dari desa kita. Saya curiga dengan hal itu” lanjut pak Trio. Semua yang mendengarkan ikut mengartikan perkataan pak Trio.
            Raut wajah tanpa senyum. Otak mulai dibolak-balik. Beberapa observasi akan dilakukan segera. Musyawarah besar akan segera dimulai. Tempat balai desa di persiapkan dengan tikar seadanya. Masyarakat berlombaan datang, tak ingin melewatkan acara sakral untuk pertama kalinya. Terlihat antara masyarakat NU dan Muhammadiyah saling memalingkan muka. Pamong-pamong desa hadir dalam barisan pertama disertai pemimpin yang berada ditengahnya. Kericuhan kembali menyatu. Seruan membela masing-masing pedomananya. “Dalam sebuah per-musyawarahan, ketenangan lebih dibutuhkan dibanding kericuhan yang tak ada manfaatnya” seru pak lurah lantang. Menyimpan emosi yang telah meluap. Gunung yang sedang menahan larvanya. Tapi, ini belum saat yang tepat. Yah, gunung belum tepat untuk meletus. Masyarakat mengikuti aba-aba komandonya. Pak lurah mempersilahkan untuk siapapun mengeluarkan unek-unek-nya. “Apa salah masyarakat NU pak lurah, hingga Muhammadiyah melecehkan kami” ucap salah satu masyarakat. pengikutnya berseru “betul itu pak” dengan serempak. “Justru NU telah memfitnah kami” sahut salah satu kelompok Muhammadiyah membela.
“Kami butuh keadilan”
“Dimana pemimpin kami yang mengayomi rakyatnya”
“Keadilan..keadilan..keadilan” dengan kompak masyarakat Muhammadiyah berteriak lantang. Di balik jilbab, menyimpan urat yang menegang. Suara kaum hawa maupun adam berangkulan. Uap menggumpal di awang-awang. Dengan arah yang berlawanan masyarakat NU tak mau membungkam. Bahkan posisi dangdut terkalahkan. Gaduh, kacau, amburadul.
            Suasanaya memanas. Perdebat mulai berlangsung. Pak lurah beserta pamong-pamong mulai memberi arahan dengan tegas. Begitupun dengan bibir yang terus berlomba memancing kericuhan. Tim banser turun tangan. Permusyawahan ini tak boleh menjadi pertengkaran. Pak lurah berlantang tegas. Semuanya terdiam kompak. Beberapa pertanyaan mulai dilontarkan terhadap pembicara sebelumnya. “Bagaiman bisa kau berkata, bahwa Muhammadiyah telah melecehkan NU.” “Kami mendengar dari Siti beserta ketiga temannya”. Ada dalang dibalik layar. Kecurigaan Trio memang harus dibuktikan. Semua pamong sepemikiran, mengingat kembali perkataan Trio. “berhubung bentar lagi magrib, musyawarah akan kita lanjutkan seusai shalat magrib.” Yah semua menganguk pelan sebagai tanda persetujuan.
            Petang datang membawa permaisuri beserta induknya. Tumpah dalam satu warna. Biru kelabu menjadi atap bumi yang menakjubkan. Miliyaran bintang berpadu satu bulan. Kali ini angin membawa kedamaian. Membisikan bahwa akan datang cahaya dalam kegelapan. Semua alam menjadi saksi bisu. Lihatlah, rupanya semangat itu masih ada dalam jiwa. Rautnya amat greget. Tak lama kemudian suasana itu kembali, siap untuk turun dalam medan. Melanjutkan lontaran yang terpendam.
Pamong-pamong beserta kepala desa tegap dalam barisan utama. Lidahnya ingin memberontak. Nafas pak lurah peka untuk langkah pertama. “ Terimakasih untuk semua bapak, ibu maupun adik-adik yang datang” musyawarah kembali dibuka “kali ini, saya meminta Siti dan kawan-kawanya untuk maju ke depan” semuanya mengikuti perintah. Kali ini Siti menjadi pemeran utama. Keempat bocah itu menunduk. Bibirnya terkunci. Ia gemetaran. Tangannya mengepal mencari ketenangan sendiri. Beberapa menit berlalu. Sepatah kata masih belum terdengar. Samping kiri kanan terlihat tegang. Dalam barisan pertama sudah tak sabar. Sedangkan barisan belakang bengong menanti serasa duduk setengah berdiri ingin melihahat sosok Siti. “Ayolah Siti bicara... kau pasti bisa” gumamnya membuat percakapan dalam diri sendiri.
Dalam hati Siti merangkai kata. Ketiga temanya menyenggol pelan memberi kode khusus. “Silahkan siti kami menunggu” tungkas pak lurah. Sebelum berkata nafasnya diatur. “Sepulang sekolah, saya dengan Ani, Siska dan Putri mampir di warung kopi pak Wan untuk membeli ice juice. Dengan asyiknya kita ngobrol, kemudian ada seorang ibu-ibu mendekat. Ia berkata bahwa masyarakat Muhammadiyah disini sedang melecehkan NU. Spontan kami terkejut, ibu itu melanjutkan pembicaraanya bahwa ia sempat mendengar perbincangan ibu-ibu Muhammadiyah. Sampai rumah saya bercerita dengan ibu saya, begitu juga dengan Ani, Siska, dan Putri. Dan akhirnya berita itu menyebar luas” Siti selesai. Masyarakat Muhammadiyah memberontak.
“Kami tidak pernah melecehkan NU pak” dengan lantang seorang bapak-bapak membenarkan. Semua anggota Muhammadiyah setuju akan hal itu.
“Bapak-bapak, ibu-ibu ini hanya ada kesalah pahaman. Orang itu hanya ingin menghancurkan desa kita. Mereka iri dengan kekeluargaan kita. Islam adalah mahkota kita, jangan biarkan mahkota kita jatuh terinjak-injak. Perbedaan aliran itu sudah menjadi pilihan kita masing-masing, karena semua akan kembali pada Maha Pencipta. Yang terpenting, kita tidak boleh saling menjatuhkan. Karena sebuah perbedaan jangan di jadikan permusuhan. Dan jangan kecewakan bapak gubernur kita yang telah memberi penghargaan atas sosialisasi hebat di desa ini” ujar pak lurah memberikan kesimpulan.
“Kami setuju” seorang yang berada di tengah-tengah berdiri, berteriak lantang.
“Hidup pak lurah”
“Pak lurah..pak lurah” sorakan bangga beriringan.
            Gaduh. Inilah kegaduhan yang di nanti. Semuanya berdiri mengangkat tangan karna sebuah perdamaian. Sedetik saja pertikaian sirna. Terdengar siul-siul menjadi nada sebuah teriakan. Inilah jati diri desa ini. Mahkota kini terangkat lagi. Islam dalam perdamaian, saling menghargai sebuah perbedaan. Masyarakat terenyuh. Saling memandang, melempar senyum. Pak lurah memberi intruksi. Semua masyarakat mengikuti dengan baik. Yah, kali ini penutupan diiringi lagu shalawat. Ketika semuanya diam, dan tenang. Semuanya melingkar, dengan tertib saling berjabat tangan. Ada juga beberapa diantara mereka saling berpelukan. Tanda mempererat tali persaudaraan. Terlihat beberapa mata terlinang, tanda kebahagian. Dalam hatinya begitu tentram. Tenang, tanpa beban. Bukan hanya mereka tapi, seisi alam ikut merasakanya. Bintang dan bulan-pun tersenyum lega. Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Kini semuanya kembali.
            Persahabatan Kanzia dan Lela kembali seperti semula. Mereka saling mengucap kata maaf. Berpelukan, sebagai tanda persahabatan telah normal. Malam yang larut memberi keharmonisan. Tumbuhan bertepuk tangan. Hari ini, Allah benar-benar telah memberi keajaiban besar. Mengembalikan yang telah hilang. Dan, mungkin ini cara Allah untuk lebih mempererat tali persaudaraan. Warga kembali pada habitatnya. Seisi desa terlelap tanpa beban. Nyenyak, dengan mimpi-mimpi yang indah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sisa Siksa

PARASIT